Krisis PBNU Belum Usai, Kiai Sepuh Jadi Penentu Arah Islah
- account_circle imam subari
- calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
- visibility 109
- comment 0 komentar

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersilatuirrahim dengan sesepuh NU dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, KH M. Anwar Manshur, Kamis (27/11/2025). (Foto: dok. PBNU)
Warta90.com, Jakarta- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf melakukan kunjungan ke para masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, Kamis (27/11/2025). Dalam agenda sowan tersebut, Gus Yahya didampingi Katib Syuriah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni. Rombongan diterima dua kiai sepuh Lirboyo, KH M. Anwar Mansur serta KH Abdullah Kafabihi Mahrus.
Melalui pernyataan di akun Instagram resminya, @yahyacholilstaquf, Gus Yahya menjelaskan bahwa kunjungannya tidak hanya untuk nyuwun duko, tetapi juga sebagai bentuk ikhtiar memperkuat amanah para ulama pasca musyawarah 23 November. Upaya ini, katanya, bertujuan menjaga martabat organisasi, merawat keteduhan internal, serta mendorong hadirnya ishlah dzat al-bayn di tengah eskalasi dinamika yang berkembang.
Ia berharap kebijaksanaan para masyayikh dapat menjadi panduan moral bagi PBNU dalam menjaga ketertiban organisasi sesuai garis konstitusi. “Semoga kearifan para masyayikh menyinari langkah kita agar Nahdlatul Ulama tetap teduh, tertib, dan sejalan dengan konstitusi,” ujarnya seperti dikutip NU Online.
Rencana sowan ke Lirboyo sebenarnya telah disampaikan Gus Yahya sehari sebelumnya pada konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan itu, ia menepis isu pelengseran yang sempat mencuat dan disebut-sebut bisa bergulir ke ranah hukum. Menurutnya, tidak ada sengketa yang mengarah pada perebutan keabsahan kepemimpinan. “Tidak ada dispute sama sekali,” tegasnya.
Gus Yahya juga menekankan bahwa PBNU terus mengedepankan pendekatan dialogis agar roda organisasi tetap berjalan baik. Ia menilai polemik yang berkembang tidak perlu terjadi, bahkan dapat mencoreng wajah organisasi karena tidak memberikan manfaat apa pun.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif Ghofur telah lebih dulu menemui KH Anwar Mansur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus pada Selasa (25/11/2025). Dalam pertemuan itu, Gus Ipul memohon doa agar PBNU dapat segera menemukan titik terang dan solusi terbaik, sembari berharap para kiai memberikan restu serta dukungan moral.
Dua kubu sama-sama merasa memiliki landasan kuat
Hingga Kamis (27/11/2025), konflik internal di tubuh PBNU masih belum menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi. Kubu Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan kubu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saling mempertahankan dasar hukum masing-masing. Kubu Rais Aam berpegang pada Peraturan Perkumpulan, sementara pihak Gus Yahya menempatkan AD/ART sebagai pijakan utama.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, ikut angkat bicara sebagai warga Nahdliyin. Ia menilai perpecahan tersebut tidak membawa kebaikan bagi NU dan berharap semua pihak kembali bersatu. “Sudahlah, lupakan itu semua. Bersatu kembali,” ujarnya.
Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai bahwa gesekan di tingkat elite PBNU berpotensi merugikan NU kultural, yakni basis massa terbesar Nahdlatul Ulama. Menurutnya, dualisme kepemimpinan di pusat dapat berdampak pada kebijakan yang menyentuh akar rumput. “Mereka yang paling dirugikan,” katanya kepada Kompas.com.
Ujang menekankan perlunya kearifan para tokoh NU struktural untuk menjaga stabilitas dan memastikan pemberdayaan NU kultural tidak terabaikan. Ia berharap PBNU dapat menyelesaikan persoalan ini secara internal. “PBNU adalah aset bangsa. Para pengurus harus solid untuk menjaga marwah organisasi,” tuturnya. (sub)
- Penulis: imam subari



Saat ini belum ada komentar