Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Perempuan Supervisor di Perkebunan: Ujian bagi Kesetaraan yang Masih Retorik

Perempuan Supervisor di Perkebunan: Ujian bagi Kesetaraan yang Masih Retorik

  • account_circle imam subari
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 101
  • comment 0 komentar

Oleh : Zalfa Nabilah

ITB AD Jakarta

Perempuan yang bekerja sebagai supervisor di perusahaan perkebunan sedang membuka babak baru di dunia kerja yang selama ini nyaris dimonopoli laki‑laki. Di balik penghargaan dan jargon kesetaraan gender, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak tantangan yang harus mereka hadapi, mulai dari budaya kerja yang maskulin hingga kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada perempuan.​

Dari Satu‑Satunya Mandor Perempuan di Afdeling

Kisah seorang mandor chemist perempuan di PT Kimia Tirta Utama (KTU), anak usaha Astra Agro Lestari di Siak, Riau, menggambarkan secara konkret bagaimana rasanya menjadi satu‑satunya pekerja wanita yang harus mengawasi buruh lapangan yang mayoritas laki‑laki dan sudah bekerja bertahun‑tahun. Lulusan program beasiswa perkebunan ini tidak hanya dituntut menguasai aspek teknis pemeliharaan tanaman, tetapi juga harus mampu memimpin, memberi instruksi, dan mengambil keputusan di tengah kultur kerja yang sejak awal dibentuk untuk laki‑laki.​

Bekerja jauh dari orang tua, hidup mandiri di lingkungan kebun, dan sejak awal langsung memegang peran supervisi terhadap karyawan yang lebih senior usia maupun masa kerjanya menjadikan pengalamannya relevan bagi banyak perempuan muda yang tertarik masuk ke sektor ini. Posisi seperti mandor rawat atau mandor chemist menempatkan perempuan sebagai penghubung antara manajemen dan realitas kerja harian di lapangan, sehingga tekanan psikologis dan sosial yang muncul sering kali berlapis: sebagai pekerja baru, sebagai atasan, dan sebagai perempuan.

Sektor Perkebunan: Maskulin, Berat, Tapi Strategis

Industri perkebunan—terutama kelapa sawit, karet, teh, kopi, dan kakao—adalah tulang punggung ekonomi pedesaan dan sumber devisa negara, namun struktur kerjanya sangat maskulin dan fisik. Pekerjaan lapangan yang menuntut kekuatan fisik, mobilitas tinggi, serta jam kerja panjang membuat perempuan lebih sering ditempatkan di posisi administrasi atau pendukung, bukan di garis depan kepengawasan.

Padahal, perusahaan perkebunan besar mulai mengusung narasi keberlanjutan dan kesetaraan gender, termasuk melalui komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDG) 5 tentang kesetaraan gender. Kesenjangan muncul ketika slogan dan kebijakan di level korporat belum sepenuhnya menjelma menjadi praktik yang setara di tingkat kebun, tempat supervisor—laki‑laki maupun perempuan—bekerja setiap hari.​

Antara Penghargaan, Komitmen, dan Fakta Lapangan

Astra Agro Lestari beberapa tahun terakhir kerap diganjar penghargaan terkait lingkungan kerja yang inklusif bagi perempuan. Perusahaan ini menerima Indonesia Best Workplace for Women Award 2023 untuk kategori agribisnis karena dinilai menyediakan fasilitas dan program pengembangan bagi pekerja perempuan, termasuk pembentukan komite gender dan inisiatif Women Champion di unit‑unit operasional. Komitmen ini diperkuat lagi dalam strategi keberlanjutan perusahaan yang secara eksplisit menyebut dukungan terhadap pemberdayaan perempuan dan kesetaraan kesempatan berkarier di posisi strategis.​

Namun, data eksternal menunjukkan bahwa secara keseluruhan proporsi pekerja perempuan di Astra Agro Lestari masih sekitar 10,6 persen, dan jumlah perempuan di jajaran manajemen senior masih terbatas meski mulai meningkat. Ini menunjukkan adanya ketegangan antara arah kebijakan yang progresif dengan warisan struktur dan budaya kerja lama yang belum sepenuhnya berubah, terutama di wilayah operasional seperti kebun sawit.​

Tiga Lapisan Tantangan bagi Supervisor Perempuan

Tantangan yang dihadapi perempuan di posisi supervisi di perkebunan dapat dibaca dalam tiga lapisan: struktural, kultural, dan individual. Di level struktural, kebijakan sumber daya manusia di banyak perusahaan kebun belum sepenuhnya responsif gender; mekanisme promosi, mutasi, dan penilaian kinerja sering kali netral di atas kertas tetapi bias dalam praktik, sehingga akses perempuan ke posisi supervisi lapangan tetap lebih sempit dibanding laki‑laki.

Di sisi kultural, budaya kerja patriarkal dan anggapan bahwa pemimpin lapangan harus “keras” dan “kuat secara fisik” membuat kemampuan perempuan sering diragukan, baik oleh atasan maupun oleh bawahan yang belum terbiasa dipimpin perempuan. Stereotip ini mendorong perempuan bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri, sekaligus menimbulkan tekanan psikologis yang tidak ringan.

Pada lapisan individual, perempuan supervisor kerap bergulat dengan peran ganda—sebagai pekerja yang harus siap mobilitas tinggi dan sebagai pengelola rumah tangga—yang bisa memicu kelelahan fisik dan mental jika tidak ditopang dukungan keluarga dan fleksibilitas kebijakan kerja. Bagi yang ditempatkan jauh dari keluarga, seperti di banyak unit kebun, beban ini berlipat karena jejaring dukungan sosial di sekitar tempat kerja relatif terbatas.

Mengapa Perusahaan Harus Peduli

Mengabaikan tantangan yang dihadapi perempuan supervisi bukan hanya persoalan ketidakadilan, tetapi juga kerugian bisnis. Perusahaan yang gagal mengoptimalkan potensi talenta perempuan pada posisi kunci berisiko kehilangan sudut pandang berbeda yang penting untuk inovasi, penyelesaian masalah, dan relasi yang lebih baik dengan komunitas sekitar kebun.

Sebaliknya, ketika kebijakan kesetaraan gender dijalankan konsisten—mulai dari promosi yang transparan, program pelatihan dan mentoring khusus perempuan, hingga lingkungan kerja yang aman dan bebas kekerasan—perusahaan punya peluang memperkuat reputasi sekaligus kinerja. Penguatan inisiatif seperti komite gender, Women Champion, dan program pengembangan kepemimpinan perempuan di lapangan dapat menjadi jembatan antara jargon di kantor pusat dengan realitas di blok‑blok tanaman di kebun.​

Yang sering terlupakan, dukungan konkret terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi—misalnya fleksibilitas jam kerja tertentu, fasilitas pendukung pekerja perempuan, serta mekanisme pengaduan yang aman—bukan sekadar “fasilitas tambahan”, melainkan prasyarat agar perempuan mampu menjalankan peran supervisi secara berkelanjutan. Tanpa itu, banyak perempuan berbakat yang justru tersisih di tengah jalan, dan sektor perkebunan kembali kehilangan kesempatan emas untuk berubah menjadi ruang kerja yang benar‑benar setara. (***)

  • Penulis: imam subari

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 10 Tempat Wisata Karimun Terpopuler 2025 yang Wajib Dikunjungi

    10 Tempat Wisata Karimun Terpopuler 2025 yang Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle Prasetyo Dharsono
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Warta90.com, Karimun – Wisata Karimun | Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terus menunjukkan perkembangan positif dalam sektor pariwisata. Dengan potensi wisata bahari, wisata alam, dan budaya Melayu, Karimun menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan di wilayah perbatasan Indonesia–Singapura–Malaysia. Memasuki tahun 2025, sejumlah destinasi wisata Karimun mengalami peningkatan kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, terutama saat akhir […]

  • Aktivitas Industri Ancam Pasokan Air Bersih Batam di Bendungan Tembesi

    Aktivitas Industri Ancam Pasokan Air Bersih Batam di Bendungan Tembesi

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Warta90.com, Batam – Bendungan Tembesi yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan air bersih bagi Kota Batam kini menghadapi ancaman serius. Aktivitas industri yang semakin masif di sekitar kawasan bendungan dikhawatirkan berdampak langsung terhadap kualitas dan kuantitas air baku yang sangat dibutuhkan masyarakat. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah kawasan industri dan aktivitas pembangunan […]

  • Dua Kontainer Sitaan Bea Cukai ‘Hilang Arah’ dan Mendarat di Sagulung, Polisi Turun Tangan!

    Dua Kontainer Sitaan Bea Cukai ‘Hilang Arah’ dan Mendarat di Sagulung, Polisi Turun Tangan!

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Warta90.com, Batam – Publik digegerkan dengan insiden janggal terkait dua kontainer yang seharusnya menjadi barang sitaan Bea dan Cukai Batam. Alih-alih menuju gudang resmi di Tanjung Uncang, kedua kontainer itu justru berakhir di Sagulung, Kota Batam, pada Sabtu, 8 November 2025. Peristiwa ini langsung menyita perhatian aparat penegak hukum. Sat Reskrim Polresta Barelang kini telah […]

  • Derita Belum Usai: Korban Tewas Banjir & Longsor di Sumbar Naik Jadi 9 Orang

    Derita Belum Usai: Korban Tewas Banjir & Longsor di Sumbar Naik Jadi 9 Orang

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle denni risman
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Warta90.com, Padang – Bencana hidrometeorologi kembali menerjang Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Per Kamis (27/11/2025) pukul 13.05 WIB, sedikitnya sembilan warga dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah. Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab, mengungkapkan bahwa korban meninggal tercatat di beberapa daerah: satu orang di Kabupaten Pasaman Barat, tiga orang […]

  • Prabowo Kerahkan 3 Hercules dan 1 Airbus A400 Bantu Korban Banjir Aceh, Sumut dan Sumbar

    Prabowo Kerahkan 3 Hercules dan 1 Airbus A400 Bantu Korban Banjir Aceh, Sumut dan Sumbar

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle imam subari
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Warta90.com,Jakarta – Atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mengerahkan empat pesawat untuk misi bantuan kemanusiaan pada Jumat pagi (28/11). Armada tersebut terdiri dari tiga pesawat Hercules dan satu pesawat A400 yang baru tiba di Indonesia awal bulan ini. Seluruhnya dijadwalkan mendarat di bandara terdekat dari lokasi-lokasi bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. […]

  • Krisis mental di Dunia Pendidikan Indonesia – Sebuah Alarm Serius yang Harus Dijawab

    Krisis mental di Dunia Pendidikan Indonesia – Sebuah Alarm Serius yang Harus Dijawab

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle Prasetyo Dharsono
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Warta90.com, Opini – Dunia pendidikan Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yang jarang dibahas secara terbuka: melemahnya mentalitas generasi muda dan ekosistem pendidikan itu sendiri. Bukan sekadar soal nilai akademik, tapi soal karakter, ketahanan menghadapi tekanan, dan kemampuan menyelesaikan masalah kehidupan nyata. Fenomena lemahnya mental ini mulai tampak dalam berbagai bentuk: cepat menyerah, mudah stres, tidak […]

expand_less