Wak Abas: Raja Gasing Batam yang Terlupakan, Warisan Budaya Belakang Padang yang Nyaris Punah!
- account_circle Denni Risman
- calendar_month Selasa, 2 Des 2025
- visibility 134
- comment 0 komentar

Wak Abas, Raja Gasing Batam bertekat majukan gasing di Belakang Padang. (foto denni risman)
Warta90.com, Batam — Tradisi gasing di Belakang Padang Batam pernah jaya. Bahkan sosok almarhum Jumain dari Kampung Sekanak diakui sebagai Presiden Gasing ASEAN oleh komunitas gasing serumpun Malaysia. Arena gasing pun ramai oleh pemain dan wisatawan.
Namun sejak Jumain meninggal sekitar tahun 2012, arena gasing itu mati suri. Sepi. Tak ada lagi suara teriakan pemain dalam turnamen gasing. Hanya cerita kejayaan yang tertinggal.
Kini, satu nama tersisa sebagai penerus: Muhammad Abas, atau akrab disapa Wak Abas. Ia disebut sebagai pewaris gelar Presiden Gasing ASEAN. Tapi ia menolaknya.
“Saya lebih senang dipanggil Raja Gasing Batam. Itu gelar dari komunitas gasing di Jakarta,” kata Wak Abas.
Sedih Menangis Tanpa Air Mata
Wak Abas mengaku hatinya hancur melihat gasing Belakang Padang dilupakan.
“Sedihnya, menangis tak berair mata. Saya ini orang tidak berpunya. Nak mengadu ke siapa? Tidak ada tempat.”
Meski begitu, ia tetap berjuang sendiri. Keluar kota ikut turnamen, membesarkan nama Batam dengan dana pribadi.
Ia bahkan diejek komunitas luar daerah:
“Batam punya monumen gasing, tapi turnamen gasing saja belum pernah digelar.”
Kemarahan Memuncak: Gasing Raksasa Dibakar!
Tahun 2020 menjadi titik emosional paling pahit.
Wak Abas berinisiatif membuat gasing raksasa untuk menarik wisatawan ke Belakang Padang.
Spesifikasi Gasing Raksasa
Diameter: 2,4 meter
Tinggi: 1,2 meter
Berat: 20 kg
Dimainkan 12 orang
Tali sepanjang 45 meter
Modal pribadi: Rp7 juta
Namun saat COVID-19, ia mengaku tak mendapat dukungan pemerintah.
“Saya kecewa besar. Semua dana dari uang pribadi. Karena tak ada tanggapan, akhirnya gasing itu saya bakar.”
Keputusan yang menyakitkan namun menjadi simbol protesnya.
Hidup Sederhana, Tekad Besar
Wak Abas sehari-hari bekerja sebagai pencari pasir laut, batu dan nelayan.
Ia tinggal di Sekanak, sekitar 2 km dari dermaga Belakang Padang.
Di usia 50 tahun, dengan 2 anak dan 5 cucu, ia masih memikirkan masa depan gasing.
“Gasing ini warisan. Saya wajib meneruskannya. Tapi setelah saya? Siapa lagi?”
Harapan Terakhir: Membangun Arena Gasing Pribadi

Wak sedang menunjukan kebolehannya bermain gasing di tempat arena gasing yang sedang dibangunnya. (foto denni risman)
Kini Wak Abas tengah membangun arena gasing dan workshop di samping rumah barunya — tanpa bantuan siapa pun.
“Saya tidak mau mengemis. Saya mau tunjukkan, Gasing Belakang Padang masih ada!”
Ia berharap tempat itu kelak:
Bisa menggelar turnamen gasing
Menjadi destinasi wisata budaya
Menjadi tempat belajar bagi generasi baru
Belakang Padang menyimpan sejarah gasing tingkat ASEAN, namun kini hampir punah kecuali satu sosok yang masih berdiri — meski tertatih.
Perjuangan Wak Abas adalah alarm bagi kita semua.
Warisan budaya tak boleh mati di tangan kita.
- Penulis: Denni Risman
- Editor: Denni Risman



Saat ini belum ada komentar