Benarkah Gen-Z Merupakan Generasi yang Terpuruk?
- account_circle Prasetyo Dharsono
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025
- visibility 44
- comment 0 komentar

Potret ilustrasi gen-z
Warta90.com, Batam – Isu mengenai kondisi Generasi Z—kelompok yang lahir pada rentang akhir 1990-an hingga awal 2010-an—kian menjadi sorotan publik. Berbagai pandangan yang menyebut Gen Z sebagai “generasi terpuruk” sering muncul dalam wacana sosial, terutama di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental, ketidakstabilan ekonomi, serta dinamika teknologi yang berkembang pesat. Namun, apakah label tersebut benar-benar mencerminkan realitas generasi ini?
Konteks Sosial-Ekonomi yang Berbeda
Generasi Z tumbuh dalam era disrupsi yang terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan. Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar kerja, tingginya biaya pendidikan dan hunian, serta dampak perubahan iklim menjadi bagian dari keseharian mereka.
Tekanan struktural tersebut berbeda jauh dengan kondisi yang dihadapi generasi sebelumnya. Menilai Gen Z “terpuruk” tanpa melihat konteks ini berpotensi menimbulkan bias antargenerasi.
Kesehatan Mental: Tantangan Serius atau Kesadaran Baru?
Peningkatan prevalensi gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z sering dijadikan dasar penilaian bahwa generasi ini “lebih lemah.” Meski demikian, tingginya angka pelaporan bisa juga mencerminkan meningkatnya kesadaran dan keterbukaan terhadap isu kesehatan mental.
Generasi Z lebih berani mencari bantuan profesional serta mendorong ruang diskusi yang lebih sehat, sesuatu yang pada era sebelumnya cenderung disembunyikan.
Dominasi Digital dan Dampaknya
Sebagai digital native, Gen Z menghadapi paparan informasi yang masif sekaligus tekanan sosial melalui media digital. Tantangan seperti kecanduan gawai, perbandingan sosial, dan banjir informasi nyata mereka hadapi setiap hari.
Namun, kemampuan adaptasi mereka terhadap teknologi juga menghasilkan peluang signifikan. Banyak pelaku usaha rintisan, kreator digital, hingga aktivis muda yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana inovasi dan pemberdayaan.
Keterlibatan dalam Isu Sosial
Berbeda dengan stereotip generasi yang pasif, Gen Z justru menunjukkan tingkat keterlibatan tinggi dalam berbagai isu sosial. Aksi nyata mereka terlihat dalam advokasi lingkungan, kesetaraan gender, hak asasi manusia, hingga gerakan kemanusiaan berbasis komunitas.
Keterlibatan ini mengindikasikan bahwa generasi ini memiliki kesadaran sosial yang kuat dan keinginan untuk berkontribusi terhadap perubahan.
Perspektif Penilaian yang Berubah
Penilaian “terpuruk” sering kali lahir dari perbedaan nilai dan pola hidup. Generasi terdahulu menilai daya tahan dan kepatuhan sebagai standar moral, sementara Gen Z menekankan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan fleksibilitas.
Perbedaan perspektif ini tidak serta-merta menunjukkan kemerosotan, melainkan perubahan norma yang mengikuti perkembangan zaman.
Kesimpulan
Mengategorikan Generasi Z sebagai “generasi terpuruk” adalah penilaian yang terlalu menyederhanakan kenyataan. Generasi ini memang menghadapi tantangan besar, tetapi mereka juga menunjukkan kemampuan adaptasi, kreativitas, serta kepedulian sosial yang menonjol.
Alih-alih terpuruk, Gen Z justru sedang berupaya menemukan identitas dan cara hidup baru yang relevan dengan dinamika era digital dan globalisasi.
- Penulis: Prasetyo Dharsono



Saat ini belum ada komentar