Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Banjir Bandang dan Tanah Longsor Sumatera : Cuaca Ekstrem atau Kerusakan Ekologis?

Banjir Bandang dan Tanah Longsor Sumatera : Cuaca Ekstrem atau Kerusakan Ekologis?

  • account_circle imam subari
  • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
  • visibility 115
  • comment 0 komentar

Warta90.com,Batam- Pekan ini, Pulau Sumatra tengah berduka. Puluhan kabupaten dan kota di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh diterjang banjir bandang serta tanah longsor. Hingga Minggu (31/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 303 korban meninggal dan 239 orang masih dinyatakan hilang akibat bencana ini.

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menjelaskan rincian dampak di Sumatra Utara. Di provinsi ini tercatat 166 korban meninggal dan 103 orang masih hilang.

“Dalam satu hari terakhir, tercatat penambahan 60 korban jiwa berkat operasi pencarian dan pertolongan yang dipimpin Basarnas,” ujarnya pada Minggu (30/11).

Ribuan warga juga terpaksa mengungsi karena kerusakan permukiman dan terputusnya akses jalan, khususnya di Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.

Di Provinsi Aceh, bencana menelan 47 korban jiwa, sementara 51 lainnya masih dalam pencarian, dan 8 orang mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi di Aceh mencapai 48.887 kepala keluarga, dengan konsentrasi tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

Sementara itu, di Sumatera Barat, tercatat 90 orang meninggal dunia, 85 hilang, dan 10 luka-luka. Berdasarkan data sementara, sekitar 11.820 kepala keluarga atau 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Di tengah duka dan kehilangan, muncul pertanyaan penting: apa yang sebenarnya menjadi penyebab tragedi tanah longsor dan banjir bandang ini sehingga menelan ratusan korban jiwa?

Memahami faktor penyebabnya menjadi langkah penting untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa depan.

BMKG: Cuaca Ekstrem Dipicu Aktivitas Siklon Tropis

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Indonesia dalam beberapa hari terakhir merupakan kombinasi dari fenomena atmosfer skala global dan regional.

Dua sistem cuaca yang tengah berkembang menjadi perhatian utama: Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Keduanya diamati oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta dan dinilai memicu peningkatan hujan deras serta angin kencang, terutama di Sumatra bagian utara pada 25 November 2025.

Bibit Siklon 95B menghasilkan pembentukan awan konvektif dalam jumlah besar, membentang dari Aceh hingga Sumatra Utara. Akibatnya, wilayah tersebut mengalami hujan dengan intensitas ekstrem dalam beberapa hari.

Pada saat yang sama, Siklon Tropis KOTO memperkuat curah hujan di Indonesia bagian barat melalui belokan angin dan penarikan massa udara basah menuju pusat siklon (inflow), sehingga mendorong pertumbuhan awan hujan secara lebih luas.

BMKG memproyeksikan bahwa Bibit Siklon 95B berpotensi menyebabkan hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau. Wilayah Aceh dan Sumatra Utara juga berisiko mengalami angin kencang.

Bibit Siklon

Selain itu, bibit siklon ini turut meningkatkan tinggi gelombang laut, mulai dari 1,25–2,5 meter di Selat Malaka bagian utara hingga mencapai 4 meter di perairan timur Sumatra Utara dan Samudra Hindia barat Aceh hingga Nias.

Sementara itu, Siklon Tropis KOTO diperkirakan membawa hujan sedang hingga lebat ke wilayah Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. Menurut BMKG, hujan lebat dengan intensitas mencapai 50–100 mm per hari telah terjadi di banyak daerah sejak pertengahan November 2025. Beberapa wilayah bahkan mencatat curah hujan ekstrem, seperti Kota Langsa dengan 311 mm dan Kabupaten Bireuen sebesar 295,8 mm.

Pada 26 November 2025, BMKG memastikan bahwa Bibit Siklon 95B telah berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada pukul 07.00 WIB. Siklon tersebut bergerak ke barat menuju daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam, membawa potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem disertai angin kencang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi perairan hangat di Selat Malaka memperkuat suplai uap air, sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif besar di wilayah utara Sumatra.

Siklon Tropis Senyar

Hingga Rabu (26/11), Siklon Tropis Senyar terpantau berada di 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan minimum sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum 43 knot (80 km/jam). BMKG memprediksi bahwa dalam 24 jam ke depan, siklon ini bergerak ke barat–barat daya dengan kecepatan 4 knot (7 km/jam) sebelum melemah menjadi depresi tropis dalam 48 jam.

Namun, pada Kamis (27/11), BMKG mengumumkan bahwa Siklon Tropis Senyar telah melemah sepenuhnya. “Alhamdulillah, hari ini siklon sudah punah. Artinya tidak lagi menjadi ancaman langsung,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan. Ancaman bencana hidrometeorologi—seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor—masih perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatra Barat, dan sekitarnya dalam 2–3 hari ke depan.

Guswanto menegaskan bahwa Siklon Tropis Senyar telah memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara, serta hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah Sumatra Barat dan Riau.

Sebagai pengantar, siklon tropis merupakan badai berintensitas tinggi yang terbentuk di atas lautan tropis akibat tekanan udara rendah. Senyar adalah nama siklon yang kerap muncul di wilayah Semenanjung Malaysia, Thailand bagian selatan, dan Sumatra. Siklon Tropis Senyar sendiri terbentuk dari pusat tekanan rendah di Samudra Hindia, berkembang menjadi depresi tropis, dan kemudian mencapai status siklon tropis sebelum akhirnya melemah.

BRIN: Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Dominan Pemicu Banjir dan Longsor

Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menegaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan faktor paling dominan di balik banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra. Menurutnya, data curah hujan menunjukkan bahwa intensitas hujan pada peristiwa tersebut berada pada level yang jarang terjadi.

“Kalau kita lihat datanya, pada 23 November curah hujan mencapai 160 mm. Esoknya, 24 November, naik menjadi 226 mm. Dalam dua hari saja totalnya hampir 400 mm. Jelas ini kategori ekstrem,” ujar Erma, Kamis (27/11).

Erma menjelaskan bahwa analisis banjir pada umumnya memakai pendekatan “50-50”: separuh dipengaruhi hujan ekstrem, separuh lagi kondisi lingkungan seperti tutupan lahan. Namun, bencana kali ini menunjukkan pola yang berbeda. Hujan dengan intensitas hampir 400 mm dalam dua hari termasuk peristiwa yang sangat langka, sehingga porsi pengaruh cuaca meningkat drastis.

“Dengan curah hujan sebesar itu, kontribusi cuaca ekstrem bukan lagi 50 persen, tapi bisa mencapai 80 persen,” jelasnya.

Puncak Hujan

Ia juga menambahkan bahwa hujan intens sebenarnya sudah terjadi beberapa hari sebelum puncak hujan 23–24 November. Hujan persisten tersebut membuat tanah dan sistem hidrologi jenuh air, sehingga ketika hujan ekstrem datang, banjir bandang menjadi tidak terhindarkan. Peristiwa banjir bandang, kata Erma, selalu dipicu oleh kejadian ekstrem yang terjadi tiba-tiba dan berlangsung singkat, tetapi berdampak sangat besar.

Gangguan cuaca kali ini meluas dari Tapanuli Tengah hingga berbagai wilayah Aceh. Berdasarkan data 26 November, curah hujan di banyak wilayah Aceh masih berada pada kisaran 181–300 mm, yang sudah jauh di atas ambang hujan ekstrem. Sementara itu, sejumlah stasiun di Sumatra Utara dan Sumatra Barat mencatat intensitas hujan 129–133 mm, yang juga masuk kategori ekstrem.

Erma menegaskan bahwa keberadaan sistem siklon yang berkembang sebelumnya ikut memperkuat hujan ekstrem tersebut. Saat siklon tropis mendarat pada 26 November, akumulasi hujan meningkat signifikan di banyak area. Data dari delapan stasiun menunjukkan bahwa lima stasiun di Aceh mencatat curah hujan rata-rata 200–300 mm, sementara wilayah lain di Sumatra Utara, termasuk Tapanuli Tengah, tetap mencatat curah hujan di atas 100 mm.

“Jadi sekitar 80 persen penyebabnya adalah anomali cuaca. Bukan anomali biasa, tapi yang terkait dengan badai besar dan sirkulasi siklon yang masif,” tegasnya.

WALHI: Kerusakan Ekologis Menjadi Pemicu Utama Bencana

Manajer Pencegahan dan Penanganan Bencana WALHI Nasional, Melva Harahap, menilai rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak bisa dilepaskan dari memburuknya kondisi lingkungan di kawasan penyangga (buffer zone). Menurutnya, meskipun curah hujan tinggi akibat krisis iklim ikut berperan, faktor ini bukanlah penyebab terbesar. Justru kerusakan ekologis di zona penyangga menjadi pemicu utama besarnya skala bencana tahun ini.

Zona penyangga—baik berupa hutan, rawa, maupun ruang terbuka hijau lain—berfungsi melindungi kawasan permukiman dari risiko banjir, longsor, dan limpasan air. Namun fungsi vital ini semakin melemah akibat perubahan tata guna lahan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah Sumatra Utara.

Melva menunjukkan contoh kondisi di Sumatra Utara, di mana sejumlah wilayah yang terdampak berat kini sudah mengalami degradasi lingkungan cukup parah. Salah satu kawasan kunci yang berubah adalah Hutan Batang Toru, bentang hutan tropis penting yang menjadi penyangga hidrologis bagi masyarakat Tapanuli. Aktivitas perusahaan yang beroperasi dengan izin resmi dinilai perlahan menghilangkan fungsi ekologis Batang Toru.

Sumber Air Utama

Hutan ini, yang sebagian besar berada di Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah, merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Selain sebagai habitat keanekaragaman hayati, hutan ini juga menjadi sumber air utama, penahan erosi, dan pusat sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalir ke wilayah hilir. Tidak heran jika wilayah-wilayah di sekitar Batang Toru—mulai dari Tapanuli Selatan hingga Kota Sibolga—menjadi kawasan yang paling terdampak pada bencana kali ini.

“Pertama-tama, tutupan hutannya sudah hilang. Memang benar hujan meningkat karena faktor iklim, tetapi tanpa hutan penyangga, hujan yang turun tidak bisa ditahan atau diserap lingkungan,” ujar Melva, Kamis (27/11).

Ia menambahkan bahwa pola hujan yang meningkat sebenarnya bisa diprediksi lewat analisis BMKG. Krisis iklim memang menggeser arah angin dan memperpanjang durasi hujan. Namun tanpa ekosistem penyangga yang sehat, dampaknya menjadi jauh lebih merusak dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Batang Toru dulu berfungsi sebagai penyangga hidrologis. Lima atau sepuluh tahun lalu banjir pernah terjadi, tapi tidak sebesar ini. Kini, dari Aceh sampai Sumbar, ada 33 kabupaten/kota terdampak,” jelasnya.

Rusaknya Daerah Hulu

Melva juga menyoroti banyaknya material—mulai dari lumpur hingga batang pohon besar—yang ikut terbawa arus. Video-video yang beredar di media sosial, kata dia, menunjukkan betapa rusaknya daerah hulu dan hilir. WALHI Sumatra Utara bahkan telah mengeluarkan kajian sebelumnya yang memperingatkan bahwa jika zona penyangga tidak dijaga, dampaknya bisa menjangkau Mandailing Natal. “Dan hari ini, prediksi itu terbukti,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa faktor alam memang memperberat, namun bencana kali ini tidak semata-mata karena hujan ekstrem. Ada akumulasi masalah ekologis yang bersumber dari buruknya tata kelola lingkungan dan regulasi yang tidak berpihak pada kelestarian alam.

Menurut Melva, tingginya luapan banjir yang kini merusak rumah, memutus jalur transportasi, serta menghambat aktivitas ekonomi dan layanan dasar menunjukkan bahwa masyarakat kehilangan banyak hak sekaligus—mulai dari hak hidup aman hingga akses terhadap pendidikan dan kesehatan.

“Inilah yang kami sebut bencana ekologis,” tegasnya. “Ketika krisis ekologis menumpuk dan sistem pengelolaan lingkungan gagal, yang runtuh bukan hanya ekosistemnya, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.”

Momentum Evaluasi Tata Kelola Hutan

Merespon tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai kawasan di Aceh, Muataera Utara an Sumatera Barat, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengingatkan agar tagedi ini menjadi momentum evaluasi tata kelola hutan.

“ Tragedi ini harus menjadi titik balik — momentum untuk mengevaluasi tata kelola hutan secara menyeluruh. Kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa salah urus lingkungan menghadirkan risiko nyata bagi keselamatan manusia.” kata Raja Juli saat kunjungan kerja di Riau (29/11)

Selama dua hari di Riau, saya memastikan evaluasi itu dimulai dari lapangan. Di Kuantan Singingi, kami menyerahkan SK Hutan Adat sebagai bentuk pengakuan negara terhadap mereka yang paling piawai menjaga hutan. Di Taman Nasional Tesso Nilo, kami meninjau proses restorasi habitat Gajah Sumatera Domang dan keluarganya agar ruang hidup mereka tetap terjaga. Dan di PLG Sebanga, kami melihat langsung, perbaikan pengelolaan  harus dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

“Ini baru permulaan. Evaluasi sedang berjalan. Kerja besar sedang dimulai. Negara hadir untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang.” demikian kata Raja Juli Antoni lewat akun FB miliknya .

Kini masyarakat terus memonitor langkah kongkrit kementerian kehutanan untuk mengevaluasi tata kelola hutan. Segera menindak tegas para pelaku perusakan hutan agar tragedi serupa yang menelan ratusan korban jiwa. Serta tidak terus terulang sepanjang masa. (Subari-dari berbagai sumber)

  • Penulis: imam subari

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cak Imin Soroti Ketimpangan: Pertumbuhan Ekonomi Tak Menetes ke Rumah Tangga

    Cak Imin Soroti Ketimpangan: Pertumbuhan Ekonomi Tak Menetes ke Rumah Tangga

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle Subari
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Warta90.com, Jakarta – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, kembali menegaskan adanya ketimpangan serius dalam distribusi kekayaan di Indonesia. Dalam keynote speech pada Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 yang digelar INDEF dan dikutip Jumat (21/11), ia mengungkapkan bahwa satu persen kelompok paling kaya di Tanah Air menguasai hampir setengah dari total kekayaan nasional. […]

  • WhatsApp Hapus Akses ChatGPT dan Copilot, Mulai Januari 2026

    WhatsApp Hapus Akses ChatGPT dan Copilot, Mulai Januari 2026

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle imam subari
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Warta90.com, Batam – Tidak banyak yang menyadari bahwa layanan chatbot AI populer seperti ChatGPT dan Microsoft Copilot selama ini bisa diakses langsung melalui chat di WhatsApp. Namun fitur tersebut sebentar lagi tidak dapat digunakan lagi. WhatsApp secara resmi akan memblokir dua chatbot tersebut menyusul perubahan kebijakan layanan mereka. Kebijakan baru ini melarang distribusi chatbot berbasis […]

  • Polisi Gagalkan Penyelundupan 21,8 Kg Sisik Trenggiling Senilai Rp1,2 Miliar di Batam

    Polisi Gagalkan Penyelundupan 21,8 Kg Sisik Trenggiling Senilai Rp1,2 Miliar di Batam

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle warta90
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Batam – Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) menggagalkan upaya penyelundupan 21,8 kilogram sisik trenggiling di Kota Batam. Aksi penyelundupan yang ditaksir bernilai Rp1,2 miliar itu diungkap di Kecamatan Bengkong pada Jumat, 29 Agustus 2025. Kasubdit I Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ruslaeni, menjelaskan bahwa pengungkapan kasus bermula dari informasi mengenai adanya pengiriman kulit trenggiling melalui […]

  • Pemkot Batam Terima Penyerahan PSU Senilai Rp106 Miliar dari Sejumlah Pengembang

    Pemkot Batam Terima Penyerahan PSU Senilai Rp106 Miliar dari Sejumlah Pengembang

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle warta90
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Batam – Pemerintah Kota (Pemkot) Batam menerima penyerahan lahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) dari sejumlah pengembang perumahan dengan total nilai aset lebih dari Rp106 miliar. Penyerahan berlangsung di Ruang Kerja Sekda Kota Batam, Lantai II Kantor Wali Kota Batam, Rabu (12/11/2025). Sekda Kota Batam, Firmansyah, mengatakan proses penyerahan dilakukan setelah seluruh verifikasi administrasi […]

  • Danantara Ungkap Strategi Penempatan Dana 5 Tahun ke Depan, Andalkan Tiga Pilar Investasi

    Danantara Ungkap Strategi Penempatan Dana 5 Tahun ke Depan, Andalkan Tiga Pilar Investasi

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle imam subari
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Warta90.com, Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memaparkan arah strategi pengelolaan dana untuk lima tahun ke depan. Lembaga ini menyiapkan tiga pilar utama yang menjadi fondasi penempatan investasi, yakni proyek strategis nasional, proyek privat komersial, dan instrumen pasar modal. Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, menjelaskan bahwa ketiga pilar tersebut dirancang agar Danantara […]

  • Sampah Menumpuk di Pasar & Pemukiman, Amsakar: Ini Tantangan Strategis Batam

    Sampah Menumpuk di Pasar & Pemukiman, Amsakar: Ini Tantangan Strategis Batam

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Warta90.com, Batam – Tumpukan sampah yang semakin menggunung di berbagai sudut Kota Batam membuat warga kian resah. Di tengah keluhan masyarakat, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, secara terbuka mengakui bahwa persoalan sampah bukanlah masalah sepele yang bisa dituntaskan dalam waktu singkat. “Persoalan sampah jangan disebut mudah, ini tidak seperti membalik telapak tangan,” ujar Amsakar saat […]

expand_less